Semua berawal dari kegalauan yang tiba2 berubah jadi tingkat tinggi. Masalah demi masalah datang semua dan menumpuk jadi satu. Bingung harus gimana, kepala udah mau pecah, dan akhirnya niat berpetualang terlintas dibenaku. Awalnya hanya terbayang sekilas di kepala untuk keliling2 kota Bogor. Yupp,,walaupun udah kurang lebih 3 tahun di Bogor, tapi seumur2 nggak pernah maen muter2 keliling2 kota. Biasanya yaaaa paling juga maen2 ke pusat perbelanjaan muter2 sampai kaki udah nggak berasa kaki (saking lamanya muter2 jadi pueguel semua di kaki). Hmmm,,maklumlah cewek kalau udah ngomong 'belanja' pasti mata langsung pada melek,haha..
Sebenarnya bukan berniat pengen lari dari masalah, tapi salah satu cara yang aku pilih adalah nenangin pikiran sejenak biar hati nurani yang menjawab semuanya. Berekal nyewa motor yang ada di rental sebelah kosan, aku pun akhirnya mengajak seseorang untuk menemaniku. Setelah mencari teman sana sini, akhirnya ada seseorang yang mau menemaniku,hehe.. Kalaupun nggak ada yang mau nemenin sepertinya aku sendiri bakal nggak tahu jalan kemana yang penting muter2 naek motor ngikutin jalan. Untungnya ada yang mau nemenin, setidaknya dia tahu jalanan di Bogor daripada aku yang sepertinya buta arah kalau udah di tanya jalan2an di sini,hehe..
Setelah muter2 beberapa menit, kita nggak tahu harus pergi ke arah mana. Tiap ada perempatan selalu yang terucap, "Ini mau belok kemana?kanan?kiri?lurus?". Aku pasrah aja mau di bawa kemana yang penting nggak mau mikirin tentang kampus dulu. Beruntung sekali dia mengerti apa yang kurasakan saat ini. Tapi kesenangan nggak bertahan lama, cuaca tiba2 berubah jadi mendung, dan ujan pun nggak bisa dihindari. Dengan agak terpaksa kita masuk ke salah satu pusat perbelanjaan dan jalan2 disana. Awalnya aku nggak suka karena tujuanku bukan nyari tempat rame kayak gini tapi karena emang lagi ujan ya apa boleh buat. Hampir sejam muter2 nggak jelas, kita pun ngobrol2 kemana2 ngalor ngidul sambil menanti hujan. Aku nggak mau banyak bicara karena memang suasana hatiku masih agak labil. Takut malah tiba2 bikin tersinggung, hehe..
Setelah ujan mulai reda, petualangan kita lanjutkan. Walaupun masih agak gerimis kecil2, kita terus nekat menerobosnya. Ujung2nya di sepanjang jalan kita malah bingung mau kemana lagi. Katanya si mau ke arah Cibinong, tapi habis ujan kayaknya pemandangannya nggak bagus. Okee lah, aku nggak tahu apa2 tentang itu, jadi ngikut aja, hehe.. Akhirnya kita menyusuri sepanjang jalan ke arah BNR atau apalah itu. Katanya disana pemandangannya bagus. Tapi di perjalanan aku nyeletuk nama 'puncak'. And finally, kita jadinya ke Puncak walaupun aku nggak bawa jaket sama sekali, haha.. Perjalanan lumayan jauh sekitar 1,5 jam tapi untungnya nggak terlalu padat. Sepanjang jalan yang cukup ekstrim, belum lagi cuaca yang dingin menusuk tulang, beuh semua jadi beku rasanya.
Akhirnya setelah perjalanan yang bener2 buat badanku dingin semua, kita sampai di Masjid At-ta'awun. Hmm, pemandangan disini sangat menyenangkan. Setelah mengisi perut dengan sesuatu yang hangat, kita lanjutkan perjalanan agak ke atas lagi. Nama tempatnya Rindu Alam. Nggak tahu mesti gimana, aku hanya bisa memandangi deretan lampu kelap kelip daerah di balik bukit. Bener2 seperti mimpi, belum pernah terbayangkan sebelumnya. Namun aku kurang beruntung karena tiba2 kabut datang dan menutup pemandangan indah itu. Bahkan beberapa menit kemudian malah turun hujan. Akhirnya aku harus puas melihat keindahan itu walau hanya sesaat. Dan jangan di tanya lagi, badanku udah nggak berasa semua. Rasanya bener2 beku semua.
Kebekuan itu kesempatanku untuk merenung tentang apa yang ada dalam diriku. Aku menyadari semua apa yang telah aku lakukan. Aku belajar untuk ikhlas untuk teman2ku. Berbagai pikiran campur semua jadi satu, dari yang seneng2an, sedih, kesel, capek bareng sahabat2ku di TIN, cah2 omda KKB-MK, anak2 Go Field 2010 Leuwikaret. Hmmm, semuanya teringat kembali dalam memoriku. Aku menyadari satu hal, jika kita sedang terpuruk di tengah berbagai masalah yang sedang ada di depan mata, bayangkan semuanya adalah pembelajaran. So, jika masalah itu belum ada titik solusinya, jadikan semua itu adalah batu loncatan untuk kedewasaan. Kedewasaan seseorang berawal dan terlihat dari bagaimana kita mengatur diri kita sendiri bahkan saat dalam keadaan genting. Aku merenungkan semuanya, bahkan keluarga yang sedang ada disana menanti kehadiranku karena aku adalah yang terbaik bagi mereka. Disanalah aku mulai berharap kembali bahwa aku akan menunjukan yang terbaik untuk meraka. Dengan masalah yang seperti ini bukan saatnya aku harus mengeluh. Harusnya aku masih bersyukur, bahkan di saat seperti ini masih ada orang yang mau menemani dan menghiburku. Aku nggak boleh cengeng kayak anak kecil lagi, aku harus bangkit ke dunia yang sesungguhnya.
*Petualangan pertama ke Puncak tengah malem. Akan aku buang hal2 yang negatif itu karena hal2 positif lainnya masih menantiku. Ada kalanya kita harus mulai berpikir ke depan walau cuma sedikit. Makasih telah menemaniku menghilangkan kegalauan yang telah mencapai tahap tingkat akut, haha.. :))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar