jeng jeng jengggggg..
Dulu pernah denger pepatah kalau buku adalah jendela dunia. Hmm, dan akhir2 ini baru kerasa makna yang sebenernya. Selama awal2 kuliah dulu, aku selalu beranggapan kalau beli buku itu adalah prioritas yang kesekian. Tapi seiring berjalannya waktu, pentingnya buku mulai kurasakan dewasa ini. Buku memberikan berjuta informasi yang terkadang justru kita tidak menyadarinya sendiri. Membaca buku bahkan menjadi hal yang tabu bagi kebanyakan orang yang terlalu sibuk mementingkan duniawi.
Aku pernah mendengar bahwa seiring bertambah canggihnya teknologi, keberadaan buku mulai tergeser. Berbagai informasi mudah sekali di akses lewat web dengan hanya mengetik kata yang diinginkan. 'Mbah google' juga sangat bersemangat dan senang hati membantu setiap kali ingin mencari info apapun, hehe.. :) Itulah kemudahan yang era sekarang sangat membantu hampir semua kebutuhan manusia hingga berdampak pada minat baca buku yang kiat menurun. Padahal dulu saat aku SD, tiap minggu selalu diadakan peminjaman buku di PerPus keliling. Yupp, aku kecil emang tinggal di daerah yang masih terpencil. Sampai2 untuk sekedar baca buku2 aja harus menunggu giliran PerPus keliling datang ke sekolah2 di desaku. Antusiasme aku dan teman2ku dulu sangat luar biasa menyambut kedatangan PerPus keliling itu. Kami berlomba mencari buku2 bacaan yang menurut kami menarik. Dan peminjaman dilakukan tiap minggunya. Pengalaman yang unik menurutku, karena sekarang kebiasaan itu sepertinya sudah nggak ada lagi kayaknya. Setiap SD sekarang ini justru telah dilengkapi PerPus yang setiap saat bisa dikunjungi. Namun kebiasaan sekarang justru orang2 kurang menghargai buku. Pergi ke PerPus adalah suatu barang langka. Bahkan beberapa teman justru menertawaiku saat aku bilang mau ke PerPus. Hmmm,, why?? apa ke PerPus adalah sesuatu yang aneh dan lucu?? Helooooo ini 2011 mas/mbak.. ahahaha :D
Tepat hari minggu kemarin aku dan beberapa temanku yaitu Dyahayu, Priska, Amhy, Ichal, Dody, dan Bunga pergi mencari buku2 di daerah Pasar Senen. Yupp, karena kami masih anak kuliahan jadi target utama yang kami cari adalah buku bekas. Sebenernya namanya bukan buku bekas, tapi lebih tepatnya yakni buku layak pakai. Start dari bogor sekitar jam setengah 11 naik angkot kampus dalam dilanjutkan angkot 03 dan sampai di stasiun Bogor jam 11an. Karena kereta yang ke arah Jakarta kota harus nunggu jam 12an, akhirnya kami putuskan naik kereta yang langsung jalan yakni kRL ekonomi biasa. Aku yang emang orangnya cuek ya santai2 aja, tapi Amhy dan Priska agak2 takut, hehe..
Kami cepat2 naik ke kereta dan mencari tempat duduk. Akhirnya Dody, Priska, Dyahayu, dan aku duduk di sebuah gerbong yang masih lumayan sepi sedangkan Ichal sama Amhy duduk di seberang tempat kami duduk. Perjalanan lumayan lama dan tahu sendiri bagaimana suasana di KRL ekonomi biasa. Semua bau2an campur jadi satu. Belum lagi panasnya ibukota membuat makin lengket seluruh badan yang penuh sesak desak2an. KRL yang kami tumpangi adalah KRL ekonomi biasa jurusan tanah abang. Awalnya aku agak heran karena tumben sekali ada kereta ke arah tanah abang jam segini, setauku kereta yang ke arah tanah abang tu adanya pagi banget dan sore banget. Ternyata karena besok ada libur cuti bersama, maka jadwal kereta hari ini ada beberapa yang diubah. Jadi tujuan kami adalah turun di stasiun Manggarai, lalu naik busway atau metromini jurusan Pasar Senen.
Saat seperti inilah rasa kantuk mulai menyergap. Aku melihat sekelilingku pebuh sesak hingga aku melihat Ichal yang tadinya duduk di sebelah Amhy jadi berdiri di deket pintu masuk kereta dan Dody juga yang tadinya duduk di sebelah Priska jadi berdiri di depan Priska. Supaya nggak ketiduran, aku mencari sesuatu di tasku. Dan akhirnya ku dapati sebuah novel yang menyelip di tasku. Sebenarnya novelnya seru, tapi rasa kantuk yang sudah terlanjur menyerangku kian menyebar.
Waktu sampai di pemberhentian stasiun apa aku lupa, tiba2 Amhy berdiri di depan Dyahayu dengan wajah yang ketakutan. Dengan refleks aku berdiri dan menyuruh Amhy duduk di bangkuku yang diapit Dyahayu dan juga Priska. Aku berdiri menutupinya karena kulihat wajah Amhy benar2 ketakutan hampir nangis malahan. Karena melihat aku berdiri dan mata Amhy yang mulai berkaca-kaca, Dody dan Ichal kaget alalu menanyakan apa yang terjadi. Setelah Amhy bercerita, ternyata ada bapak2 'iseng' yang mengganggunya. Kelihatan banget gerak gerik si bapak itu setelah Amhy berada di depanku, lalu Ichal dan Dody melihatnya. Setiap langkahnya terkesan takut dan disengaja berjalan ke arah gerbong lain alias menjauh dari kami namun sambil tetap melihat ke arah kami. Aku berusaha menetralkan suasana dengan memberikan permen ke anak2 yang lain. Dan 'kegaringan' Dody dan Ichal mulai ditunjukan pada kami supaya agak lebih santai. Kulihat Amhy sudah sedikit agak tenang. Akhirnya menunggu beberapa stasiun lagi kami sampai di Manggarai.
Sesampainya di Manggarai, perjuangan belum berakhir. Kami harus menyusuri jalanan hingga perempatan dan kendaraan Metromini adalah yang kami pilih karena langsung ada yang langsung berangkat, kalau naik busway pun mesti nunggu lama. Aku duduk di kursi bagian belakang bersebelahan dengan Dyahayu, Dody, dan Ichal sedangkan Priska dan Amhy duduk di bangku depan kami. Selama perjalanan, ugal2an Metromini membuatku agak serem. Ngebut sana sini nyari penumpang dan nurunin penumpang di tengah jalan, hadeuh lama2 di sini bisa muntah2 aku. Saat jalan di tikungan yang harusnya pak supir ngerem metromininy malah justru makin di gas kenceng, alhasil badanku terperosot ke sana ke sini nggak jelas. Serasa naik jet coaster di Dufan aja, huffft..
Kami semua di turunkan di depan Stasiun Pasar Senen, tempat yang nggak asing lagi bagiku karena pertama naik kereta waktu pulang lebaran pas jaman2 TPB dulu aku ke sini. Kami berjalan memasuki terminal2 bus gitu, terus sampai di depan Pasar Senen Jaya. Di seberangnya adalah Mall yang gedhe banget bernama Atrium. Wow, batinku seketika saat melihatnya. Kami berdiri di tepi jalan tersebut karena menunggu Bunga yang ke sana juga tapi dari rumahnya. Setelah formasi lengkap, kami bertujuh langsung hunting buku yang terletak di bagian lantai empat.
Selama nyari2 buku, kami menemukan beberapa keganjilan. Ada kesan bahwa buku tentang pertanian susah di dapat. Seolah buku tentang pertanian itu nggak ada yang nyari, jadi penjual jarang ada yang jual. Bahkan buku2 bekas tentang pertanian pun jarang. Kami agak kecewa setelah mendengar penuturan beberapa penjual tersebut. Namun akhirnya dengan sedikit kesabaran, kami menemukan beberapa buku yang kami maksud. Walau tak semua dari kami merasa puas tapi cukup terbayarkan dengan perjuangan kami tadi hingga sampai di sana.
Setelah semua selesai memilih2 buku, perut mulai berontak karena dari tadi nggak diisi apapun. Akhirnya kami bergaya nyebrang dan masuk ke kawasan Mall Atrium buat makan di d'cost karena rekomendasi Ichal dan Bunga yang mengatakan bahwa disana disajikan makanan sea food yang harganya murah namun tetap berkelas. Menu makanan yang kami pilih yakni cumi, udang, dan kerang. Kehebohan terjadi saat pesan makanan. "Hmm, mas 1 cumi sauce tomat, 1 udang lada hitam, 1 kerang bumbu padang, 14 es teh manis.." sumpah, kami ketawa ngakak. Tau sendiri kan gelas es tehnya segedhe apa, jadi nggak heran kalau kami mesen masing2 orang 2 gelas es teh manis, hehe.. Dan harga segelas es teh manis cuma Rp500,- perak, seumur2 aku udah 3 tahun di Bogor aja nggak ada yang harganya segitu, ckckkkkk..
Petualangan seru hari ini selesai setelah perut kenyang dan buku telah di tangan. Kami melanjutkan perjalanan pulang naik angkot ke stasiun Sawah Besar. Kami cukup beruntung karena kereta yang sebentar lagi datang adalah kereta ekonomi AC, setidaknya suasananya lebih kondusif dibanding yang tadi pas berangkat naik kereta ekonomi biasa. Tapi tempat duduk sudah penuh semua, jadi kami hanya bisa berdiri dengan sejuta lelucon yang terekam supaya mengurangi rasa capek yang kami mulai rasakan.
Namun yang paling terekam dalam benakku adalah masih miskinnya buku2 tentang pertanian yang beredar di pasaran. Padahal Indonesia kan negara agraris yang menjunjung tinggi dan menganggap unggul sektor pertanian tapi kenyataannya buku2 yang relevan tentang pertanian aja masih sangat jarang dan susah didapatkan. Yah, itulah gambaran kecil dari negara kita yang kurang menghargai buku. Buku bukan sekedar bahan bacaan yang akan keluar di ujian nanti, tapi buku adalah investasi ilmu yang tersaji sebagai bukti utuh yang akan terletak berjajar di lemari kelak bersama kumpulannya.
Ingat, setiap kemana pun kamu pergi harus bawa satu buku!! one bag one book.. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar