Sebuah pengalaman yang sangat menggugah hati nurani. Kedatangan saya di sebuah desa yang bisa disebut desa yang cukup terpencil. Berawal dari program IPB Go Field 2010 yang ditawarkan oleh LPPM IPB, saya bertemu dengan keluarga-keluarga baru yang sangat luar biasa. Desa Leuwikaret adalah nama desanya. Disana saya ditempatkan bersama 13 orang mahasiswa lainnya. Awalnya kami ber-14 tidak pernah membayangkan akan dapat bertahan selama sebulan disana. Tetapi karena ini memang konsekuensi yang harus dipilih maka kami pun menjalani hari-hari disana mencoba menerapkan program-program yang telah disepakati sebelumnya.
Leuwikaret merupakan salah satu desa binaan PT Indocement yang berada di sekitar daerah penambangan. Kesan pertama melihat sekeliling desa adalah tandus dan panas berdebu. Namun setelah beberapa hari observasi melihat sekeliling desa, terdapat keistimewaan tersendiri yang membuat Leuwikaret berbeda dengan desa-desa binaan yang lainnya. Walaupun unsur tanah yang tampak tandus tapi terdapat berbagai macam tumbuh-tumbuhan dapat hidup disana. Akses ke desa sudah cukup terjangkau walaupun hanya dengan naik ojek. Jalan beton telah dibangun berkat bantuan PT Indocement dan gotong royong warga sekitar hingga Leuwikaret dapat terjamah oleh beberapa kendaraan.
Desa ini terbagi atas 5 dusun yang jarak antar dusunnya lumayan jauh, kurang lebih berjalan kaki berjam-jam dengan kontur jalan yang naik turun selayaknya di pegunungan. Kami ber-14 tinggal terpisah satu dengan yang lainnya. Dusun I (Guha Kulon) yang merupakan tempat saya tinggal selama sebulan bersama Widya dan Tati. Untuk Dusun II (Guha Gajah) yang merupakan tempat tinggal Endah, Mia, dan Dona. Selanjutnya Dusun III (Guha Landeuh) yang merupakan tempat tinggal Mbak Risya dan Indra. Kemudian Dusun IV (Guha Siangin) yang merupakan tempat tinggal Erna, Ifah, dan Susan. Dan yang tinggal di Dusun V (Guha Cioray) adalah Dani, Alhamadi, dan Rian.
Satu hal yang membuat hati saya menangis adalah ketika mendengar cerita dari ibu pemilik rumah yang saya tempati bahwa di desa ini pendidikannya masih sangat kurang. Dari semua dusun yang saya kunjungi, hanya ada satu SD Negeri yang ada. Sedangkan yang lainnya adalah beberapa MI yang baru dirintis beberapa waktu dekat ini dan MD yang telah lama berdiri. Setelah tamat SD atau sederajat, rata-rata siswa tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Akhirnya untuk mengatasi hal tersebut, setahun yang lalu didirikanlah MTs Assyifa yang tanpa dikenai biaya apapun bagi semua siswanya. Walaupun dengan ruangan kelas yang seadanya namun tidak menyurutkan niat para siswa dalam menuntut ilmu. Sangat ironi sekali, terlihat tanpa fasilitas penunjang selayaknya sekolah pada umumnya. Apalagi ruang kelas untuk siswa angkatan baru yakni kelas X, hati ini merasa sangat iba melihatnya. Ruangannya baru saja dibangun, hanya ada meja guru dan papan tulis. Setiap hari para siswa kelas X yang berjumlah sekitar 50-an harus berjuang menuntut ilmu, mendengarkan pelajaran dengan hanya duduk di lantai alias lesehan. Dengan ruangan yang tidak terlalu besar dan jumlah siswa yang membludak membuat kenyamanan belajar mengajar sangat terabaikan. Untuk pengajarnya, hanyalah para relawan yang mau mengabdikan dirinya untuk pendidikan tanpa gaji selayaknya seorang pengajar. Bahkan ada beberapa pemuda asli Leuwikaret lulusan SMA yang mengabdi disana sebagai pengajar. Sangat memprihatinkan sekali, salah satu desa yang berada di pinggiran kota Bogor masih perlu perhatian khusus.
Setiap daerah pasti memiliki kebiasaan maupun adat tersendiri, tak terkecuali di Leuwikaret. Penduduk desa ini alhamdulillah 100% memeluk agama Islam. Namun ada beberapa kebiasaan yang masih berlaku hingga saat ini yang menurut saya kurang relevan lagi. Misalnya banyak pemuka agama yang menganut ASPEK (Anti-Speaker), yakni mengharamkan penggunaan alat elektronik yang menggunakan speaker contohnya TV, tape, radio, dll. Asumsi mereka yang mengharamkan hal itu adalah karena dengan adanya alat-alat elektronik jenis tersebut akan mengganggu jam beribadah mereka. Namun di era global seperti sekarang ini terasa kurang relevan di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat di bidang teknologi.
Di desa ini, kami satu kelompok memiliki beberapa program kegiatan, misalnya saya dengan program UKM Pangan Sehat. Kemudian program Lubang Resapan Biopori (LRB), Penghijauan Lahan Kritis dan Sosialisasi Pupuk Organik, Pembentukan dan Pengembangan POSDAYA, dan juga Pengembangan TOGA. Alhamdulillah, semua program yang di pegang oleh tiap-tiap kelompok berhasil terlaksana. Untuk UKM Pangan Sehat dan Pengembangan TOGA, kami mengundang ibu-ibu PKK dalam sosialisasi pembuatan kripik pisang coklat. Dalam acara tersebut, kami berinteraksi langsung dengan warga mencari info-info lain tentang potensi desa. Kami juga berdiskusi mengenai tanaman obat-obatan keluarga yang banyak ditemukan di pekarangan rumah. Kemudian kami sharing mengenai masalah pentingnya kesehatan terutama untuk anak-anak. Tidak hanya membahas mengenai makanan sehat dan bergizi, kami juga menyoroti masalah MCK disana yang masih sangat minim.
Selanjutnya untuk program LRB dan Penghijauan Lahan Kritis serta Sosialisasi Pupuk Organik kami lakukan bersama-sama ber-14. Awalnya kami mendatangi door to door tiap rumah untuk sosialisasi LRB. Walaupun kami menjadi lebih akrab dan interaktif dengan para warga desa tapi terasa kurang efektif, hingga kami memutuskan untuk sosialisasi LRB di sekolah-sekolah yang ada di Leuwikaret. Selain itu, pada tiap-tiap sekolah yang kami datangi sekaligus bermain dan memperlihatkan video motivasi agar para siswa lebih giat lagi dalam menuntut ilmu.
So, selagi masih mampu jangan sia-siakan kesempatan untuk menuntut ilmu. Teringat saat-saat bersama kalian Leuwikaret'ers.. Semoga persahabatan kita nggak cuma bertahan satu bulan saja..^_^
TRIMA KASIH ANDA SUDAH MENGUNJUNGI DESA KAMI YG SANGAT SEDERHANA MENURUT KAMI....SEMOGA BERKESAN DAN MAU BERKUNJUNG KEMBALI
BalasHapus