Astagfirullah,, kenapa air mata ini nggak mau berhenti menetes?Aku terlalu bodoh jika terus2an terbelenggu dalam hal semacam ini. Yaaa walaupun aku bodoh, tapi aku disekolahkan keluargaku jauh2 sampai sini supaya dapet ilmu yang bermanfaat.
*Aku bukan tipe orang yang bisa dengan gampang, hingga seketika menghilangkan perasaan ini. Butuh waktu untuk menetralisir semua perasaan yang salah ini. Yang aku pilih bukan untuk sembarang hati. Aku sudah merasakan getaran ini sejak pertama kali mengenalmu. Sejak saat itu aku sadar hanya pantas menjadi temanmu. Apalagi saat aku tahu dan melihat bukti2 yang ada bahwa kamu masih bersamanya, sungguh menyakitkan. Sakit yaaa pasti sakit. Sedih yaa emang sedih. Tapi itulah hidup, terkadang kita harus merasakan kesakitan dan kesedihan sekaligus, jangan hanya berpikir kesenangan dan kebahagiaan saja, sehingga dengan kedua pertentangan itu, kita bisa merasakan perbedaan. Ada kalanya di sana dan ada kalanya di sini.
*Aku terlalu polos hingga dengan mudahnya berani mencintaimu. Dalam benak hatiku, sepertinya kamu merasakan hal serupa denganku. Namun tak sepatah katapun terucap padaku, yang ku dapat hanya sikapmu yang membuat hatiku semakin teduh. Entahlah, perasaan apa yang aku rasa saat tahu pengakuanmu ini.
*Yang aku khawatirkan ternyata memang benar adanya. Kau melakukan hal yang sama dengan yang lainnya. Kau permainkan perasaanku sampai akhirnya tercabik2 seperti ini. Ingin rasanya aku menjauh dan pergi secepatnya dari semua ini. Bahkan yang ada di pikiranku adalah bisa lulus secepat2nya, yaaa walaupun di jurusanku lulus 4 tahun pas aja jarang sekali, dan aku berniat lulus sebelum 4 tahun. Dengan aku secepatnya pergi dari sini mungkin perasaan ini juga akan mulai sirna. Engkau sudah pasti akan menetap di daerahmu, begitu juga denganku yang pasti akan menetap di daerahku.
***Dan maafkan aku yang pernah ingin memilikimu. Keimananku yang masih minim belum pantas aku memilihmu untuk selalu ada di sampingku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar