nana1

nana1
Kota Tua, Jakarta

Rabu, 06 April 2011

Lalalalalla ^^

           Perjuangan hidup seseorang adalah misteri. Terkadang apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari belum tentu sama seperti yang sesungguhnya terjadi. Teka-teki kehidupan menyiratkan keteguhan hati seseorang sejauh mana batas kemampuannya mampu bertahan hingga tercapai suatu titik optimum yang merupakan fase puncak perjuangannya. Itulah yang tergambar dari raut wajah cantik nan jelita seorang cewek yang bernama Prisca. Gadis yang genap berumur 20 tahun di bulan Desember kemarin, harus mampu menjalani kehidupan klasiknya yang menggugah mata hatiku.
Tepat seminggu hari yang lalu, Prisca tiba-tiba jatuh sakit. Dia ditemukan oleh salah seorang pegawai gudang, tengah pingsan di dekat penyimpanan terakhir kakao yang telah siap di kirim. Setelah di bawa ke Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus, ternyata dia positif terkena kanker. Hampir 70 persen hatinya sudah tak berfungsi. Betapa pilu hatiku mendengar ucapan dokter yang mengatakan hidup Prisca tak kan lama lagi karena penyakitnya yang sudah stadium akhir. Air mataku mulai menetes. Aku seolah berada diantara hutan rimba kegelapan dengan beribu hewan liar yang siap menerkam. Semua pandangan yang aku lihat hanyalah kegelapan yang tiada ujung. Sejenak kemudian, tiba-tiba aku teringat lagu sebuah band favorit Prisca. Yupp, judulnya ‘Tak ada yang abadi’. Dan itu adalah kisah klasik yang benar-benar membuatku pilu.
Setelah berusaha menetralkan diri, langkah kakiku bergerak menuju kamar pasien nomor 5B ruang Melati. Diluar dugaanku, ternyata Prisca sudah sadar dari tidurnya. Dia tersenyum padaku. “Hai non...”, sapaku ramah menyambutnya. “Gimana sekarang keadaanmu? Adakah yang sakit?”, ucapku lagi sambil mengelus lembut kepalanya. “Alhamdulillah mbak, aku udah mendingan. Cuma perutku yang bagian kanan agak sakit kalau digerak-gerakin. Nggak tau nih mbak, rasanya kayak ada yang memar, tapi ku lihat nggak kenapa-kenapa kok.”, balas Prisca sambil memegangi perutnya itu. ”Ya udah, istirahat dulu deh Pris. Entar mungkin jadi mendingan. Mbak Nia pergi ngambil obatmu dulu di apotek depan.”, ucapku sedikit menghiburnya karena sekilas dia mencari sosok kakaknya itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum, lalu tertidur dengan lelapnya.
Sejak berumur 13 tahun, Prisca tinggal bersamaku di panti. Dia di tinggal ayahnya yang tak punya hati. Menurut info yang ku dapat dari kepala Panti Asri, ibunya telah tiada saat berjuang melahirkan dia. Ayahnya yang belum bisa menerima kepergian tersebut malah semakin menelantarkan Prisca. Setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan, judi, dan gonta-ganti cewek. Berbekal kecerdasan yang Prisca punya saat SMP, dia mengirim surat padaku. Akhirnya dengan usaha kerasku membujuk kepala Panti Asri, Prisca bisa tinggal bersamaku di panti. Sesekali, Prisca menulis artikel-artikel supaya tetap bisa menanggung semua keperluan sekolahnya. Dia juga sering berjualan keliling kompleks tiap pagi sebelum sekolah. Bahkan membantu mencuci mobil di tempat cucian mobil Bang Ucok juga pernah dilakoninya. Selain itu, mengamen di jalan, di kereta, dan dari rumah satu ke rumah yang lain sudah pernah dia lakukan. Hingga suatu ketika saat lulus SMA, dia terdaftar memjadi penerima beasiswa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.
Itulah keberuntungan yang selalu menyertai Prisca sampai sekarang. Untuk menghidupi keperluan kuliahnya, dia bekerja bersamaku juga sebagai pengawas gudang di pabrik kakao dekat panti. Setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu adalah tugas Prisca. Sedangkan giliranku yakni selain hari itu karena aku tak melanjutkan kuliah seperti Prisca, jadi jadwalku lumayan fleksibel.
Saat sedang mengantri di apotek, aku teringat Prisca yang dulu selalu riang dan bersemangat, ternyata kini harus melawan kanker yang menggerogoti hatinya. Hatiku sedih melihat betapa besar perjuangan hidupnya selama ini, sampai akhirnya kanker itu perlahan tapi pasti bersarang ditubuhnya. Dari SMP hingga sekarang pun, dia tak yakin apakah dia masih memiliki keluarga selain ayahnya. Siksaan batin yang membuatnya merana. Namun, aku sangat takjub padanya, dia jarang sekali mengeluh ataupun menangis. Saat ku tanyakan hal itu, jawabannya sepele sekali. ”Aku nggak akan pernah menangis mbak, selama aku masih kuat menahannya. Aku juga nggak akan mengeluh karena terlalu enak tenagaku di buang-buang begitu saja. Mendingan di buat ketawa mbak, hehehe..”, kata Prisca padaku. Hanya ketegaran yang selalu menyelimuti sosok gadis mungil tersebut. Dari situlah aku belajar banyak tentang perjuangan hidup. Walaupun aku bukan saudaranya, tapi hanya aku yang dia punya. Bersamaku, dia selalu bercerita tentang apapun. Sekalipun tentang cowok yang dia taksir di kampus belakangan ini. Mendengar ceritanya, sepertinya mereka memang saling suka dan mengerti satu sama lain. Aku tersenyum senang melihat wajahnya yang berbunga-bunga karena si Farabbi.
Aku tersadar dari lamunanku ketika nama Prisca disebut oleh pelayan apotek. Setelah aku menyelesaikan pembayaran, bergegaslah aku ke toko sebelah untuk membeli keperluan Prisca selama di RS. Aku berjalan di koridor RS yang tampak masih lengang. Saat ku tiba di kamar Prisca, ternyata dokter berada disana. Prisca nampak tambah pucat wajahnya. Perasaanku mulai tak tenang. ”Ada apa Pris? Kok wajahmu pucat banget?”, tanyaku padanya. ”Aku nggak kenapa-kenapa kok mbak. Mungkin kelelahan mbak, dari tadi aku ngobrol sama dokter terus.”, jawabnya sambil tetap tersenyum. ”Maaf dok, ada sesuatu yang terjadi sama Prisca? Kok dokter dari tadi disini?”, tanyaku pada dokter Nafilis, seorang dokter paruh baya spesialis organ dalam. ”Ow, nggak ada apa-apa mbak Nia. Tadi saya kesini periksa Prisca, tapi malah dia kebangun dari tidurnya.” ucap dokter itu. Setelah itu, dokter pamit keluar mau memeriksa pasien yang lain.
Aku menata keperluan Prisca di lemari. Kemudian Prisca menyeletuk, ”Mbak, udah tau penyakitku kan?”. Aku tersentak kaget. ”Hah,,, emmm,,, penyakit apa si Pris?”, jawabku agak gugup. ”Alah mbak, nggak usah takut gitu deh. tadi dokter udah cerita semuanya kok.”, ucap Prisca sambil tersenyum. ”Udah, nggak usah di pikir Pris. Tawakal aja yah? Ini semua pasti akan segera berlalu kok. Mbak yakin kamu pasti sembuh. ”, kataku berusaha menguatkan Prisca sambil memegang tangannya. ”Iya mbak, aku pasti sembuh kok, hehehe...”, jawabnya sambil tertawa renyah. ”Aku juga merasakan, sebenarnya hatimu pilu mendengar tentang penyakit itu menyerangmu”, gumamku dalam hati.
”Mbak, boleh minta tolong?”, ucap Prisca sedikit serius. Sorot matanya menyiratkan secercah harapan yang masih bimbang. ”Minta tolong apa sayang?”, jawabku padanya dengan lembut. ”Tolong rawat aku ya mbak. Sebenernya aku takut. Aku takut akan mati secepat ini. Aku belum siap mbak. Banyak hal yang belum aku lakuin.”, cerocos Prisca. ”Sabar ya sayang. Roda terus berputar. Mbak janji akan selalu ngerawat dan jaga kamu. Kamu jangan menyerah gitu ya? Kamu pasti sembuh.”, jawabku sambil memeluknya.
Seminggu setelah Prisca di rawat di RS, dia sudah semakin membaik. Wajah pucatnya mulai menghilang. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan besok boleh pulang. Tapi itu hanyalah impian. Tepat malam sebelum kepulangannya, dia malah muntah darah. Tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya jadi tampak kuning sekali. Aku mulai gelisah memikirkannya. ”Kenapa Pris? Ada yang sakit?”, tanyaku padanya. ”Mbak, badanku sakit semua. Aku capek banget.”, rintihnya padaku. ”Sabar ya sayang. Buat istirahat aja dulu, tadi kan obatnya udah di minum. Ntar pasti agak mendingan.”, kataku padanya sambil memijat-mijat tangannya. Dia tersenyum, kemudian tertidur dengan pulas.
Pagi sekitar jam 8, aku membangunkan Prisca. Dia tampak masih pucat dan lemas. ”Pagi sayang...”, sapaku. Dia hanya tersenyum dan tiba-tiba tertidur lagi. ”Sayang, ayo bangun. Makan dulu ya? terus di munum obatnya.”, kataku membujuknya. Takdir berkata lain. Saat dia tersenyum adalah saat terakhir kali dia menghembuskan nafasnya. Hatiku tak bisa menahan rasa pilu ini. Tetes air mataku seolah sirna tak bisa keluar lagi.
Sesosok gadis mungil yang berjuang demi kehidupannya telah kau panggil. Dialah pahlawan yang sesungguhnya. Aku memahami segala hal tentangnya. Dia adik istimewa yang kau titipkan untukku. Ketegaran dan kemandirian yang dia miliki, membuatku belajar menjadi manusia sejati. Dia menyusul ibunya yang telah duluan berada disana. Tuhan, pintaku hanya satu. Tolong tempatkan dia di tempak yang paling mulia. Begitu berat perjuangan hidupnya selama ini. Selamat jalan adikku tersayang. Telah ada berjuta kenangan yang selalu tersimpan di hatiku. Kau mengajariku melihat lebih dalam arti kehidupan yang sebenarnya. Proses pembelajaran singkat yang sangat bermakna. Pahlawanku, semoga kau tenang berada disana. Menurutku, pahlawan yang sesungguhnya adalah orang yang berusaha melalui setiap langkahnya dengan perjuangan, tanpa mengeluh, bahkan berani berjalan sendirian di kegelapan demi mencari secercah cahaya impian. Wahai peri kecilku, semoga kau bahagia disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar