Aku adalah seonggok rumput liar yang terdampar tumbuh diantara kumpulan tanaman hias nan eksotis. Adanya tuntutan jaman dan gaya hidup yang glamor membuat hati ini teriris pedih. Kesabaran selalu diuji tanpa tahu kalau telah melewati batas ambang yang mengkhawatirkan. Fenomena kehidupan selalu terekam sebagai sejarah dalam ingatan. Ada kalanya memang kesenangan datang. Namun di kala itu juga hal yang ironi mulai tampak. Titik terang kedamaian mulai terusik. Sekejap saja masalah demi masalah muncul ke permukaan.
Hidup sendiri jauh dari orang tua memang membutuhkan keteguhan hati dan ketangguhan yang luar biasa. Goncangan emosi terangkai fluktuatif setiap saat. Rumitnya keadaan yang terjadi mengajarkan betapa kompleksnya sisi kehidupan ini. Kala gundah melanda, tak ada seseorang yang mampu menentramkan jiwa. Apalagi sekedar merefresh otak yang penuh dengan asam basa kehidupan. Berbekal hanya dengan seutas kepercayaan diri yang masih minim, aku memberanikan diri menjalani semua ini.
Hidup sebagai anak bungsu dari dua bersaudara membuatku menjadi sosok cewek lemah dan manja. Tapi ironinya, disini justru kelihatan aku yang nggak manja sama sekali. “Mama, Mel pengen beli sepatu. Sepatu Mel yang dulu udah jelek, keliatan butut banget Ma. Apa kata temen-temen Mel kalo mereka tau. Kan Mel malu Ma. Boleh beli ya Ma? Hehehe...” cerocos Mela seperti rentetan gerbong KA Argo Wilis jurusan Jakarta-Surabaya. Begitulah Mela, temen sekosanku yang lagi ngobrol sama Mamanya lewat telepon. Ini cukup bertolak belakang denganku, hampir jarang sekali aku mendapat telepon dari orang tuaku sendiri. Sedangkan Mela, selalu tiap hari di telepon Mamanya. Aku nggak terlalu heran kok, maklumlah dia anak konglomerat tajir dari Pekanbaru yang memang nggak pernah sekalipun kepisah sedetik saja dari Mamanya.
Mela adalah teman seperjuanganku disini. Awal mula perkenalan kami terjadi sekitar setahun yang lalu saat kami berdua tergabung menjadi tim panitia dalam suatu acara kemahasiswaan di kampus. Karena keseringan bertemu itulah, kami merasa saling cocok satu sama lain. ”Prisca,,, udah jam segini nih! Gue berangkat ke kampus dulu yak? Mau ada kuis dari dosen killer neh. Tar sore kalo loe pulang sms gue ya, biar kita bareng beli makannya.” celoteh Mela yang buru-buru ke kampus. ”Okay Mel, tar gue sms.” jawabku singkat sambil buka-buka binder ngeliat jadwal agendaku hari ini. Itulah Mela, setiap saat kalo ngobrol pasti ngomongnya panjang banget sepanjang kemacetan lalu lintas di Bogor tiap pagi.
Hari ini ternyata aku ada kuliah mulai jam 10 sampai jam 12 siang, terus dilanjutin responsi masuk jam 1 siang sampai jam 4 sore. Tapi sebelumnya, habis shalat dhuhur aku ada janji mentoring bentar sama Mbak Ning. Kemudian jam setengah 5 ada kumpul majalah Fantasy bentar. Terakhir, jam 7 malem ada kumpul OMDA di depan GK A. ”Waduh, cukup padat juga hari ini.” gumamku sesaat sambil membayangkan keperluan apa saja yang harus aku siapkan sekarang. Sembari siap-siap ke kampus, aku menyempatkan diri menyelesaikan satu buah artikel tentang lingkungan yang deadline di Fantasy bulan depan.
Di kampus, aku bukanlah tipe cewek yang eksis. Kata teman-temanku di kelas, aku adalah cewek sederhana. Hal itu bisa di bilang benar adanya jika di lihat dari penampilanku sehari-hari. Wajah yang pas-pasan dengan dandanan jauh dari kesan menor ataukah make up minimalis. Secara fisik dengan tinggi 165 cm dan berat 47 kg cukup memperlihatkan kalau aku kurus. Walaupun kurus, tapi kalau urusan makanan dan cemilan selalu pengen lagi, lagi, dan lagi. Inilah kelebihanku, jenis makanan apa saja insyallah yang halal pasti doyan, hehehe...
Salah satu kegemaran yang akhir-akhir ini selalu menyita waktuku adalah menulis artikel. Sejak kecil aku sangat suka menulis. Apa saja yang aku lihat kadang bisa langsung menjadi ide tulisanku. Entahlah, hingga sekarang pun aku sangat menekuninya. Semenjak aku memutuskan mengambil kuliah di jurusan ’Sapu Jagad’, kecintaanku terhadap lingkungan semakin menggila. Demi memahami arti lingkungan yang sering aku tuangkan dalam tulisan, sengaja aku berkunjung dari suatu daerah ke daerah lain untuk mengamati secara langsung fenomena apa yang sedang terjadi disana.
Suatu ketika aku berkunjung ke daerah pegunungan di sekitar kampus tentunya. Disana aku melihat begitu indahnya pesona alam yang nampak asri. Barisan hijau bukit-bukit terhampar luas seolah menyatu bersama langit biru yang menawan. Sejenak aku membayangkan suasana tersebut dengan wajah senyum-senyum sendiri. Tanpa sadar, tiba-tiba seseorang datang mengagetkan lamunanku.
”Ehm,,,ini kan masih pagi. Kenapa udah senyum-senyum ngelamun nggak jelas gitu?” kata si cowok itu. Spontan terkejut, aku langsung mencari seseorang yang ngomong itu disekitarku. Yang ku temukan adalah sesosok cowok tinggi dengan wajah yang kucel mengenakan jaket tebal dengan ransel dipunggungnya. ”Hei,,,” sapa cowok itu sembari melepas senyum tipis padaku. “Kenalin, nama gue Teguh, lengkapnya Teguh Hassan Farabbi.” kata cowok itu lagi dengan mengulurkan tangannya ke arahku.
“Hah, iya kenalin gue Prisca.” kataku sekenanya sambil mengulurkan tangan menjabat tangannya. Gila neh cowok lumayan keren juga, batinku sambil melihat sorot matanya yang tajam yang seolah menunjukkan kalo dia adalah tipe cowok berprinsip. Apalagi dia cukup membuat jantungku sedikit terguncang karena kaget sapaannya tadi.
“Loe,,, eh sorry Prisca, ngapain pagi-pagi udah senyum-senyum nggak jelas sendirian disini? Awas lho tar ada yang ngintip, hahaha...” kata Teguh yang mulai mencoba mengakrabkan diri denganku. “Jiah, santai aja kali. Gue kan lagi nikmatin pemandangan langka disini. Kalo ada yang ngintip mah itu pasti loe kan? hehehe...” jawabku sambil melirik ke arahnya.
Ternyata, sekejap pandangan mata kita saling bertemu di satu titik. Sedari tadi ternyata tu cowok merhatiin aku terus. ”Waduh, gue ketahuan neh, hahaha....” ucapnya sambil ketawa renyah. ”Loe ngapain kok tiba-tiba ada disini?” ucapnya lagi. ”Hem, gue mau cari inspirasi. Gue pengen nglanjutin artikel ini biar nggak di kejar dealine mulu.” kataku sambil menunjuk ke arah buku catatan yang aku pegang sedari tadi. “Ouwch, loe penulis yah? Keren dong.” kata cowok tinggi itu sambil memandang usil ke arahku. “Terus habis ini mau kemana loe? Kok sendirian sih?” tanya dia lagi.
“Ah nggak, tulisan gue biasa-biasa aja kok.” jawabku sekenanya. “Nggak tau neh mau kemana, mungkin mau muter-muter sekitar sini. Kata penjaga villa disana tadi, kalo nggak salah di sekitar sini banyak curug. Jadi sekalian aja liat langsung gimana curug-curug daerah sini.” ucapku kemudian. “Hem, gitu yah. Mau gue temenin liat curug yang paling keren disini nggak?” kata Teguh sambil menatapku lagi. “He’em bener, disini emang banyak banget curug. Kalo nggak salah inget ada sekitar 10 lebih dah. Tapi cuma ada satu curug yang paling keren. Tempatnya masih asri banget. Pokoknya beda banget ama curug-curug yang lain.” cerocos si Teguh.
“Wah, seru juga tu kayaknya.” jawabku santai sambil membuka kembali buku catatan yang aku pegang. “Beneran neh nggak ganggu loe?” tanyaku lagi. “Ah, nggak napa-napa kok.” jawabnya cepat. “Mumpung gue lagi nggak ada kerjaan.” sambungnya lagi. “Ya udah, berangkat sekarang aja yah? Gue males kalo siang-siang panas banget pastinya.” ajakku pada Teguh. “Sip,,, kita berangakat sekarang.” ucap cowok bertubuh tinggi itu. Kami berjalan ke arah 3 bukit di bagian utara tempatku berdiri tadi. Sepanjang perjalanan, ternyata Teguh orangnya asyik juga. Dia mulai mengakrabkan diri padaku. Padahal baru kenal tapi rasanya ada yang berbeda dari cowok yang satu ini.
Teguh sebenarnya adalah seorang pendaki gunung dan pemerhati lingkungan. Aku bertemu dengan orang yang tepat, batinku. Dia ternyata masih kuliah tingkat akhir di Unibraw. Sesekali dia cerita tentang pengalamannya naik gunung di beberapa tempat di Indonesia. Diam-diam aku mulai kagum padanya. Hati ini mulai berdesir saat melihat sorot matanya yang mengisyaratkan sesuatu.
Setelah kurang lebih berjalan 2 jam melewati anak tangga yang berliku-liku dari satu bukit ke bukit yang lain, kami sampai juga di tempat tujuan. Disana, subhanallah sekali. Curug Seribu adalah namanya. Sesuai namanya, seribu tetesan air menghambur di tiap detiknya dari ujung puncak curug ini. Tinggi curug ini kalo nggak salah perkiraan sekitar 20 meter. Pandangan yang sangat menakjubkan bagiku. Tak pernah sekalipun aku pernah melihat keadaan seperti ini.
“Wow,,, “ kataku spontan. “Keren banget kan Pris?” ucap Teguh dengan senyum manis di bibirnya. “Ada juga ya, tempat yang kayak gini disini.” kataku kemudian hingga tanpa henti-hentinya mengucap syukur dalam hati atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Namun, manusia hanyalah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan sekeliling curug, tiba-tiba terdengar suara dentuman senapan. Ternyata Allah memiliki rencana lain yang mungkin lebih sempurna untukku. Sesaat kemudian mataku seperti terkena tetesan air yang sangat panas. Semuanya gelap... gelap... dan gelap...
Aku tersadar sekitar 5 jam kemudian. Dan saat membuka mata, yang kulihat hanya secercah cahaya putih yang kosong tanpa ujung. Yang bisa ku dengar hanya suara Teguh yang berada disampingku. Aku kaget karena mataku tak bisa melihat lagi. Spontan aku menjerit dan semuanya berubah jadi gelap... gelap... dan gelap... Aku pingsan lagi.
Keesokan paginya baru aku terbangun. Aku sangat terpuruk, bahkan untuk melakukan apapun aku harus dibantu oleh orang. Dan itulah yang paling aku benci. Dengan setia, Teguh masih tetap menjagaku di sana. Dia selalu ada di sampingku. Karena masih shock, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutku sejak aku bangun kecuali jeritan dan rintihan tangisku yang sedari tadi meleleh. Sebenernya kemarin saat di curug ada beberapa pemburu yang membidik buruannya dengan senapan. Namun entah kenapa tiba-tiba bidikan senapan itu bersarang di badanku. Orang yang baik aja masih tetap di jahatin, apalagi orang yang jahat??? Berarti orang yang baik itu kurang baik dong, bukan begitu??? (Anonim, 2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar