nana1

nana1
Kota Tua, Jakarta

Sabtu, 30 April 2011

Kebiasaaan Malem Minggu..

Hei.. Udah lama aku nggak nulis2 lagi. Rasanya agak gatal ditanganku,,hehe.. Hari ini malem minggu, malem yang paling ditunggu2 buat anak muda pada sibuk dengan urusan masing2. Biasa anak2 kuliahan rata2 pada sibuk pacaran (tentunya,,haha..), ada juga yang kumpul2 bareng temen2nya, keluarganya, sodara2nya, dll. Tapi kalo para aktivis di kampus, ada beberapa yang menghabiskan malem minggunya ngurus ini itu buat organisasi,hohoo salut aku sama orang2 yang kayak gitu. Saatnya anak2 muda pada sibuk refreshing, setidaknya masih ada segelintir orang yang peduli dengan organisasinya,hehe..

Hmmm itu beberapa kebiasaan yang aku amati di sekitarku. Kalo aku sendiri kebiasaan malem minggu justru 'gabut' nggak ada kegiatan apa2,,hehe.. Terkadang aku menghabiskan waktu sekedar keluar beli makan bareng tmen ato bahkan sendirian. Terkadang juga malah cuma nonton dvd film korea yang ngopi dr tmen. Pernah juga jalan kesana kesini di sekitar kampus yang nggak tau arah tujuan mau kemana. Sering juga malah ngisi malem minggu ngerjain laporan ato tugas2 kuliah. Tapi pernah juga maen2 ke mall mpe pulangnya bisa ngeliat swasana Bogor malem2. Yah, keliatan monoton emang. Selama beberapa tahun terakhir ini aku emang nggak pernah ngerasain malem minggu yang emang bener2 malem minggu. Mungkin yang kongkow2 bareng temen,,ato sejenisnya. Nggak tau kenapa, tiap aku ngajak orang2 buat kumpul2 bisa dipastikan 80% hanya aku yang datang sendirian. Rata2 orang yang aku ajak pada udah punya kesibukan kegiatan sendiri2. Kalo ada temenku yang bilang, "yah, salah sendiri lu jomblo alias nggak punya cowok. makanya sono cari pacar jadi malem minggu nggak melongo sendirian,,haha" Ada benernya juga kata temenku itu, tapi toh selama aku happy kenapa nggak? nggak salah dong kalo aku selalu sendiri,,hehe..

..kesendirian bukan untuk dihindari tapi dinikmati..
..still alone with my dreams..
Sebenernya aku bukan orang yang menutup diri dari lingkungan, tapi aku orangnya terlalu perasa. Kalo aku udah nggak nyaman di lingkungan itu, nggak bakal aku mau terlibat lagi di lingkungan itu. Malem minggu ini nggak ada yang spesial juga. Cuma maen2 sendiri di depan lepi, baca novel yang download kemaren di temani lagu2 sendu curahan hatiku bareng segunung cemilan kiloan yang tadi aku beli,,haha.. Menyedihkan sekali kayaknya, tapi nggak ada yang salah kan?hehe.. Selama masih mengisi waktu dengan hal-hal yang positif kenapa mesti gengsi, ato malu sama orang2 lain. Ini pilihanku, kesendirian bukan untuk di ratapi ato bahkan di tertawakan. Ada kalanya orang juga perlu waktu untuk sendiri, iya nggak?hehe.. Sekedar sharing aja malem mingguku..semoga bukan rasa iba bahkan umpatan yang keluar di lubuk hati pembaca.. :))

Selasa, 12 April 2011

ahrg.. NYEBELIN!!

Segalanya nggak ada yang sia-sia. Yupp, itu adalah pedoman yang aku percayai sekarang. Namanya juga belajar, kalau semuanya benar ya kita nggak akan tahu mana yang salah. Tepat hari ini adalah hari dimana aku masih merasakan ujian. UTS, sesuai namanya adalah Ujian Tengah Semester. Kali ini tepatnya baru tadi pagi aku ujian salah satu mata kuliah yang aku sukai. Tapi semua telah berlalu, yang ada hanya penyesalan kenapa nggak belajar lebih giat lagi? Hmm, aku bukan mahasiswa teladan yang jadi panutan orang-orang. Jadi wajar kalau aku terpuruk giliran orang-orang pada cerita tentang nilai-nilainya.
Pembelajaran mengajarkanku untuk selalu berusaha dalam setiap langkah yang ku tempuh. Pencapaian bukan hal yang istimewa bagi orang-orang yang tidak sama sekali menghargai makna perjuangan. Prinsipku adalah bagaimana mulai merubah hal-hal sepele yang selama ini terabaikan. Ada yang menggelitik hati nuraniku yang selama ini hampir nggak pernah di gubris oleh kebanyakan orang. Indonesia butuh perubahan supaya lekas bangkit dari kebobrokan yang kian parah. 
Bermula dari ujian hari ini, tepatnya di salah satu ruangan di Fateta, aku memetik hikmah itu. Aku duduk di bangku urutan ke 4 dari depan dan baris ke 2 dari samping kanan. Ketika soal dan lembar jawab telah dibagikan, aku menyiapkan berbagai keperluan di mejaku. Aku mengambil pulpen, tipex, dan yang paling penting adalah kartu ujian. Saat menoleh ke arah samping, temanku yang bernama X tersenyum padaku sambil berbisik, "Jangan lupa ya Sa, kalo bisa bantuin.." Hmmm, itu adalah gangguna pertama yang aku rasakan. Yang ada di benakku seketika adalah kenapa nih orang, baru juga megang kertas soalnya, udah mikir-mikir yang negatif aja. Pakai minta bantuan segala pas ujian lagi,,hadeuh..Inilah yang membuatku nggak suka kalau ujian tapi duduk di bangku tengah atau belakang. Aku paling nggak suka kalau ada yang melakukan tindakan apapun yang ada hubungannya sama MENYONTEK. Beuh,, bisa berbuntut panjang tu kasus. Maaf kalau di kira sok pinter dan sok suci. Tapi inilah pilihan hidupku ^^ (bersambung)

Senin, 11 April 2011

just co_pas,,tapi perlu di renungkan


Sesuai cerita temanku..
Ini aq dedikasikan untuk semua generasi yang dilahirkan setelah tahun 1988, terutama generasi tahun 1998 ke atas.

Bayangkan dunia tanpa internet, tanpa handphone, tanpa f*cking blackberry just for trend, mall untuk bergaul, dan pengkotakan “anak gaul”, “anak kota”, atau “anak alay”
Dimana kita bisa lebih buta dengan status kaya-miskin, populer-tidak populer, trendy-tidak trendy, dan hal lain.
Jika kita golongkan 2 generasi yang berbeda, dalam hal ini generasi yang lahir di awal tahun 80an dan generasi pertengahan 90an (baca ‘95), kita bisa lihat perbedaan apa yang mereka dapatkan di usia ABG atau muda mereka (usia 15-20)

KEBERSAMAAN:
Anak sekolah (SMP-SMA) tahun 93-97: (generasi ‘80)
Mau kaya, mau miskin, pasti nongkrongnya di warung kopi atau warteg, atau jalan-jalan ke gunung/pantai bareng, bikin lingkaran dan main gitar! biasanya yang nyediain transpor si Kaya, tapi kita bisa enjoy sama-sama

Anak sekolah (SMP-SMA) tahun 2008-2012 (generasi sekarang)
Anak orang kaya: ke mall aja sana ngopi/nongkrong di St*r B*ck aje deh lu sambil aktifin black-berry lu untuk dapetin wireless, update facebook dengan informasi ga penting yang sedikit bikin iri “lagi ngopi di starbuck, nunggu temen nonton premier bentar lagi”
Anak orang miskin: nongkrong di pinggir jalan, dapetin uang dengan ikutan acara “Dashy*t”, desak-desakan waktu nonton konser ST12, ikut geng motor, tawuran antar pelajar/suporter bola. Dan Anda pun akan di-cap ALAY!

TEKNOLOGI
Anak sekolah (SD-SMA) tahun 87-97: (generasi ‘80)
Main super mario bros di Nintendo atau gamewatch (gimbot), tapi kebanyakan ngajak temen karena harga konsolnya cukup mahal. Jadi masih bisa main bareng temen.
Ga ada handphone, paling pager doank itu pun di akhir taun 1998. Inget lagunya IWA K ga? kalo mau kontak temen? telepon/telepon UMUM lah!
Nonton bokep? gile aje! kaset VHS (sebelum VCD populer) aja jarang ada yang punya! trus mana ada yang jual kaset VHS di kaki lima?
Internet? apa itu!?

Anak sekolah (SD-SMA) tahun 2002-2012 (generasi sekarang)
Playstation, sampe Playstation 2 rentalnya buka sampe ke kampung-kampung kumuh.
Handphone, bisa dipake untuk sms, telepon, sampe bikin adegan mesum atau nyimpen film bokep.
VCD bokep udah dijual di kaki lima sejak awal 2002an (pulau jawa), Internet “cepat & murah” sudah mulai marak awal 2006, bisa download film bokep nih!

FASHION
Anak sekolah (SMP-SMA) tahun 93-97: (generasi ‘80)
Untuk cewe: gaya rada tomboi tapi sopan kayak Demi Moore atau Niki Astria, rok sma ga keliatan lutut.
Fashion berarti: BAJU, aksesoris

Anak sekolah (SMP-SMA) tahun 2008-2012 (generasi sekarang)
Untuk cewe: tanktop, hotpants, rok pendek SMA 10 cm di atas lutut
Fashion berarti: BAJU, aksesoris, dan BOROKBERRY

PERKEMBANGAN MENTAL/PSIKOLOGIS
Anak sekolah (SD-SMP) tahun 87-95: (generasi ‘80)
Masih inget Ria Enes + Susan, Trio Kwek-Kwek, Maissy?
Acara tv jam 4-6 sore isinya lagu anak-anak

Anak sekolah (SD-SMP) tahun 2002-2010 (generasi sekarang)
Udah tau definisi ** SENSOR **, Teman-tapi-Mesra, Selingkuh, dan lain-lain!
Acara tv jam 4-6 sore isinya GOSIP bin FITNAH

BEBAN HIDUP & MASA DEPAN
Anak sekolah (SMA) tahun 95-97: (generasi ‘80)
Anda pintar tapi miskin, coba UMPTN/SPMB, siapa tau bisa kuliah di ITB, UI, UGM, dan lain-lain

Anak sekolah (SMA) tahun 2010-2012 (generasi sekarang)
Anda pintar tapi miskin, ke laut aja sono!
Anda bego tapi kaya, tenang! cukup 300 juta saja untuk bangku kuliah Anda!
Kalo anda berpenampilan cantik dan menarik dan ingin meneruskan kuliah, anda bisa jual diri lewat facebook

PERGAULAN
Anak sekolah (SMP-SMA) tahun 93-97: (generasi ‘80)
Bolehlah pacaran donk Pah/Mah? aku janji ga akan ganggu pelajaran di sekolah
Ga pacaran? ga gaul! kok lu dikekang banget sih ama ortu lu?! cukup Siti Nurbaya (lagunya Dewa 19)

Anak sekolah (SMP-SMA) tahun 2008-2012 (generasi sekarang)
Bolehlah pacaran donk Pah/Mah? aku janji ga akan sampe dihamili/menghamili pacarku
udah pacaran tapi belum ML? ga gaul!
SEMOGA MENJADI BAHAN RENUNGAN BAGI KITA SEMUA
Beginilah realita jaman sekarang, semua berubah dengan sangat cepat, stress meningkat, egoisme meningkat, hidup di atas kemampuan bukannya sesuai kemampuan, dan gengsi berlebihan. Sebagian dari kita pastilah terkontaminasi akan salah satu/beberapa dari hal tersebut hanya saja mungkin kadarnya yg berbeda karena faktor umur, lingkungan,dll.

Jumat, 08 April 2011

Kejutan @ Curug

Aku adalah seonggok rumput liar yang terdampar tumbuh diantara kumpulan tanaman hias nan eksotis. Adanya tuntutan jaman dan gaya hidup yang glamor membuat hati ini teriris pedih. Kesabaran selalu diuji tanpa tahu kalau telah melewati batas ambang yang mengkhawatirkan. Fenomena kehidupan selalu terekam sebagai sejarah dalam ingatan. Ada kalanya memang kesenangan datang. Namun di kala itu juga hal yang ironi mulai tampak. Titik terang kedamaian mulai terusik. Sekejap saja masalah demi masalah muncul ke permukaan.
Hidup sendiri jauh dari orang tua memang membutuhkan keteguhan hati dan ketangguhan yang luar biasa. Goncangan emosi terangkai fluktuatif setiap saat. Rumitnya keadaan yang terjadi mengajarkan betapa kompleksnya sisi kehidupan ini. Kala gundah melanda, tak ada seseorang yang mampu menentramkan jiwa. Apalagi sekedar merefresh otak yang penuh dengan asam basa kehidupan. Berbekal hanya dengan seutas kepercayaan diri yang masih minim, aku memberanikan diri menjalani semua ini.
Hidup sebagai anak bungsu dari dua bersaudara membuatku menjadi sosok cewek lemah dan manja. Tapi ironinya, disini justru kelihatan aku yang nggak manja sama sekali. “Mama, Mel pengen beli sepatu. Sepatu Mel yang dulu udah jelek, keliatan butut banget Ma. Apa kata temen-temen Mel kalo mereka tau. Kan Mel malu Ma. Boleh beli ya Ma? Hehehe...” cerocos Mela seperti rentetan gerbong KA Argo Wilis jurusan Jakarta-Surabaya. Begitulah Mela, temen sekosanku yang lagi ngobrol sama Mamanya lewat telepon. Ini cukup bertolak belakang denganku, hampir jarang sekali aku mendapat telepon dari orang tuaku sendiri. Sedangkan Mela, selalu tiap hari di telepon Mamanya. Aku nggak terlalu heran kok, maklumlah dia anak konglomerat tajir dari Pekanbaru yang memang nggak pernah sekalipun  kepisah sedetik saja dari Mamanya.
Mela adalah teman seperjuanganku disini. Awal mula perkenalan kami terjadi sekitar setahun yang lalu saat kami berdua tergabung menjadi tim panitia dalam suatu acara kemahasiswaan di kampus. Karena keseringan bertemu itulah, kami merasa saling cocok satu sama lain. ”Prisca,,, udah jam segini nih! Gue berangkat ke kampus dulu yak? Mau ada kuis dari dosen killer neh. Tar sore kalo loe pulang sms gue ya, biar kita bareng beli makannya.” celoteh Mela yang buru-buru ke kampus. ”Okay Mel, tar gue sms.” jawabku singkat sambil buka-buka binder ngeliat jadwal agendaku hari ini. Itulah Mela, setiap saat kalo ngobrol pasti ngomongnya panjang banget sepanjang kemacetan lalu lintas di Bogor tiap pagi.
Hari ini ternyata aku ada kuliah mulai jam 10 sampai jam 12 siang, terus dilanjutin responsi masuk jam 1 siang sampai jam 4 sore. Tapi sebelumnya, habis shalat dhuhur aku ada janji mentoring bentar sama Mbak Ning. Kemudian jam setengah 5 ada kumpul majalah Fantasy bentar. Terakhir, jam 7 malem ada kumpul OMDA di depan GK A. ”Waduh, cukup padat juga hari ini.” gumamku sesaat sambil membayangkan keperluan apa saja yang harus aku siapkan sekarang. Sembari siap-siap ke kampus, aku menyempatkan diri menyelesaikan satu buah artikel tentang lingkungan yang deadline di Fantasy bulan depan.
Di kampus, aku bukanlah tipe cewek yang eksis. Kata teman-temanku di kelas, aku adalah cewek sederhana. Hal itu bisa di bilang benar adanya jika di lihat dari penampilanku sehari-hari. Wajah yang pas-pasan dengan dandanan jauh dari kesan menor ataukah make up minimalis. Secara fisik dengan tinggi 165 cm dan berat 47 kg cukup memperlihatkan kalau aku kurus. Walaupun kurus, tapi kalau urusan makanan dan cemilan selalu pengen lagi, lagi, dan lagi. Inilah kelebihanku, jenis makanan apa saja insyallah yang halal pasti doyan, hehehe...
Salah satu kegemaran yang akhir-akhir ini selalu menyita waktuku adalah menulis artikel. Sejak kecil aku sangat suka menulis. Apa saja yang aku lihat kadang bisa langsung menjadi ide tulisanku. Entahlah, hingga sekarang pun aku sangat menekuninya. Semenjak aku memutuskan mengambil kuliah di jurusan ’Sapu Jagad’, kecintaanku terhadap lingkungan semakin menggila. Demi memahami arti lingkungan yang sering aku tuangkan dalam tulisan, sengaja aku berkunjung dari suatu daerah ke daerah lain untuk mengamati secara langsung fenomena apa yang sedang terjadi disana.
Suatu ketika aku berkunjung ke daerah pegunungan di sekitar kampus tentunya. Disana aku melihat begitu indahnya pesona alam yang nampak asri. Barisan hijau bukit-bukit terhampar luas seolah menyatu bersama langit biru yang menawan. Sejenak aku membayangkan suasana tersebut dengan wajah senyum-senyum sendiri. Tanpa sadar, tiba-tiba seseorang datang mengagetkan lamunanku.
”Ehm,,,ini kan masih pagi. Kenapa udah senyum-senyum ngelamun nggak jelas gitu?” kata si cowok itu. Spontan terkejut, aku langsung mencari seseorang yang ngomong itu disekitarku.  Yang ku temukan adalah sesosok cowok tinggi dengan wajah yang kucel mengenakan jaket tebal dengan ransel dipunggungnya. ”Hei,,,” sapa cowok itu sembari melepas senyum tipis padaku. “Kenalin, nama gue Teguh, lengkapnya Teguh Hassan Farabbi.” kata cowok itu lagi dengan mengulurkan tangannya ke arahku.
“Hah, iya kenalin gue Prisca.” kataku sekenanya sambil mengulurkan tangan menjabat tangannya. Gila neh cowok lumayan keren juga, batinku sambil melihat sorot matanya yang tajam yang seolah menunjukkan kalo dia adalah tipe cowok berprinsip. Apalagi dia cukup membuat jantungku sedikit terguncang karena kaget sapaannya tadi.
“Loe,,, eh sorry Prisca, ngapain pagi-pagi udah senyum-senyum nggak jelas sendirian disini? Awas lho tar ada yang ngintip, hahaha...” kata Teguh yang mulai mencoba mengakrabkan diri denganku. “Jiah, santai aja kali. Gue kan lagi nikmatin pemandangan langka disini. Kalo ada yang ngintip mah itu pasti loe kan? hehehe...” jawabku sambil melirik ke arahnya.
Ternyata, sekejap pandangan mata kita saling bertemu di satu titik. Sedari tadi ternyata tu cowok merhatiin aku terus. ”Waduh, gue ketahuan neh, hahaha....” ucapnya sambil ketawa renyah. ”Loe ngapain kok tiba-tiba ada disini?” ucapnya lagi. ”Hem, gue mau cari inspirasi. Gue pengen nglanjutin artikel ini biar nggak di kejar dealine mulu.”  kataku sambil menunjuk ke arah buku catatan yang aku pegang sedari tadi. “Ouwch, loe penulis yah? Keren dong.” kata cowok tinggi itu sambil memandang usil ke arahku. “Terus habis ini mau kemana loe? Kok sendirian sih?” tanya dia lagi.
“Ah nggak, tulisan gue biasa-biasa aja kok.” jawabku sekenanya. “Nggak tau neh mau kemana, mungkin mau muter-muter sekitar sini. Kata penjaga villa disana tadi, kalo nggak salah di sekitar sini banyak curug. Jadi sekalian aja liat langsung gimana curug-curug daerah sini.” ucapku kemudian. “Hem, gitu yah. Mau gue temenin liat curug yang paling keren disini nggak?” kata Teguh sambil menatapku lagi. “He’em bener, disini emang banyak banget curug. Kalo nggak salah inget ada sekitar 10 lebih dah. Tapi cuma ada satu curug yang paling keren. Tempatnya masih asri banget. Pokoknya beda banget ama curug-curug yang lain.” cerocos si Teguh.
“Wah, seru juga tu kayaknya.” jawabku santai sambil membuka kembali buku catatan yang aku pegang. “Beneran neh nggak ganggu loe?” tanyaku lagi. “Ah, nggak napa-napa kok.” jawabnya cepat. “Mumpung gue lagi nggak ada kerjaan.” sambungnya lagi. “Ya udah, berangkat sekarang aja yah? Gue males kalo siang-siang panas banget pastinya.” ajakku pada Teguh. “Sip,,, kita berangakat sekarang.” ucap cowok bertubuh tinggi itu. Kami berjalan ke arah 3 bukit di bagian utara tempatku berdiri tadi. Sepanjang perjalanan, ternyata Teguh orangnya asyik juga. Dia mulai mengakrabkan diri padaku. Padahal baru kenal tapi rasanya ada yang berbeda dari cowok yang satu ini.
Teguh sebenarnya adalah seorang pendaki gunung dan pemerhati lingkungan. Aku bertemu dengan orang yang tepat, batinku. Dia ternyata masih kuliah tingkat akhir di Unibraw. Sesekali dia cerita tentang pengalamannya naik gunung di beberapa tempat di Indonesia. Diam-diam aku mulai kagum padanya. Hati ini mulai berdesir saat melihat sorot matanya yang mengisyaratkan sesuatu.
Setelah kurang lebih berjalan 2 jam melewati anak tangga yang berliku-liku dari satu bukit ke bukit yang lain, kami sampai juga di tempat tujuan. Disana, subhanallah sekali. Curug Seribu adalah namanya. Sesuai namanya, seribu tetesan air menghambur di tiap detiknya dari ujung puncak curug ini. Tinggi curug ini kalo nggak salah perkiraan sekitar 20 meter. Pandangan yang sangat menakjubkan bagiku. Tak pernah sekalipun aku pernah melihat keadaan seperti ini.
“Wow,,, “ kataku spontan. “Keren banget kan Pris?” ucap Teguh dengan senyum manis di bibirnya. “Ada juga ya, tempat yang  kayak gini disini.” kataku kemudian hingga tanpa henti-hentinya mengucap syukur dalam hati atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Namun, manusia hanyalah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan sekeliling curug, tiba-tiba terdengar suara dentuman senapan. Ternyata Allah memiliki rencana lain yang mungkin lebih sempurna untukku. Sesaat kemudian mataku seperti terkena tetesan air yang sangat panas. Semuanya gelap... gelap... dan gelap...
Aku tersadar sekitar 5 jam kemudian. Dan saat membuka mata, yang kulihat hanya secercah cahaya putih yang kosong tanpa ujung. Yang bisa ku dengar hanya suara Teguh yang berada disampingku. Aku kaget karena mataku tak bisa melihat lagi. Spontan aku menjerit dan semuanya berubah jadi gelap... gelap... dan gelap... Aku pingsan lagi.
Keesokan paginya baru aku terbangun. Aku sangat terpuruk, bahkan untuk melakukan apapun aku harus dibantu oleh orang. Dan itulah yang paling aku benci. Dengan setia, Teguh masih tetap menjagaku di sana. Dia selalu ada di sampingku. Karena masih shock, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutku sejak aku bangun kecuali jeritan dan rintihan tangisku yang sedari tadi meleleh. Sebenernya kemarin saat di curug ada beberapa pemburu yang membidik buruannya dengan senapan. Namun entah kenapa tiba-tiba bidikan senapan itu bersarang di badanku. Orang yang baik aja masih tetap di jahatin, apalagi orang yang jahat??? Berarti orang yang baik itu kurang baik dong, bukan begitu??? (Anonim, 2011).

Rabu, 06 April 2011

Lalalalalla ^^

           Perjuangan hidup seseorang adalah misteri. Terkadang apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari belum tentu sama seperti yang sesungguhnya terjadi. Teka-teki kehidupan menyiratkan keteguhan hati seseorang sejauh mana batas kemampuannya mampu bertahan hingga tercapai suatu titik optimum yang merupakan fase puncak perjuangannya. Itulah yang tergambar dari raut wajah cantik nan jelita seorang cewek yang bernama Prisca. Gadis yang genap berumur 20 tahun di bulan Desember kemarin, harus mampu menjalani kehidupan klasiknya yang menggugah mata hatiku.
Tepat seminggu hari yang lalu, Prisca tiba-tiba jatuh sakit. Dia ditemukan oleh salah seorang pegawai gudang, tengah pingsan di dekat penyimpanan terakhir kakao yang telah siap di kirim. Setelah di bawa ke Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus, ternyata dia positif terkena kanker. Hampir 70 persen hatinya sudah tak berfungsi. Betapa pilu hatiku mendengar ucapan dokter yang mengatakan hidup Prisca tak kan lama lagi karena penyakitnya yang sudah stadium akhir. Air mataku mulai menetes. Aku seolah berada diantara hutan rimba kegelapan dengan beribu hewan liar yang siap menerkam. Semua pandangan yang aku lihat hanyalah kegelapan yang tiada ujung. Sejenak kemudian, tiba-tiba aku teringat lagu sebuah band favorit Prisca. Yupp, judulnya ‘Tak ada yang abadi’. Dan itu adalah kisah klasik yang benar-benar membuatku pilu.
Setelah berusaha menetralkan diri, langkah kakiku bergerak menuju kamar pasien nomor 5B ruang Melati. Diluar dugaanku, ternyata Prisca sudah sadar dari tidurnya. Dia tersenyum padaku. “Hai non...”, sapaku ramah menyambutnya. “Gimana sekarang keadaanmu? Adakah yang sakit?”, ucapku lagi sambil mengelus lembut kepalanya. “Alhamdulillah mbak, aku udah mendingan. Cuma perutku yang bagian kanan agak sakit kalau digerak-gerakin. Nggak tau nih mbak, rasanya kayak ada yang memar, tapi ku lihat nggak kenapa-kenapa kok.”, balas Prisca sambil memegangi perutnya itu. ”Ya udah, istirahat dulu deh Pris. Entar mungkin jadi mendingan. Mbak Nia pergi ngambil obatmu dulu di apotek depan.”, ucapku sedikit menghiburnya karena sekilas dia mencari sosok kakaknya itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum, lalu tertidur dengan lelapnya.
Sejak berumur 13 tahun, Prisca tinggal bersamaku di panti. Dia di tinggal ayahnya yang tak punya hati. Menurut info yang ku dapat dari kepala Panti Asri, ibunya telah tiada saat berjuang melahirkan dia. Ayahnya yang belum bisa menerima kepergian tersebut malah semakin menelantarkan Prisca. Setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan, judi, dan gonta-ganti cewek. Berbekal kecerdasan yang Prisca punya saat SMP, dia mengirim surat padaku. Akhirnya dengan usaha kerasku membujuk kepala Panti Asri, Prisca bisa tinggal bersamaku di panti. Sesekali, Prisca menulis artikel-artikel supaya tetap bisa menanggung semua keperluan sekolahnya. Dia juga sering berjualan keliling kompleks tiap pagi sebelum sekolah. Bahkan membantu mencuci mobil di tempat cucian mobil Bang Ucok juga pernah dilakoninya. Selain itu, mengamen di jalan, di kereta, dan dari rumah satu ke rumah yang lain sudah pernah dia lakukan. Hingga suatu ketika saat lulus SMA, dia terdaftar memjadi penerima beasiswa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.
Itulah keberuntungan yang selalu menyertai Prisca sampai sekarang. Untuk menghidupi keperluan kuliahnya, dia bekerja bersamaku juga sebagai pengawas gudang di pabrik kakao dekat panti. Setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu adalah tugas Prisca. Sedangkan giliranku yakni selain hari itu karena aku tak melanjutkan kuliah seperti Prisca, jadi jadwalku lumayan fleksibel.
Saat sedang mengantri di apotek, aku teringat Prisca yang dulu selalu riang dan bersemangat, ternyata kini harus melawan kanker yang menggerogoti hatinya. Hatiku sedih melihat betapa besar perjuangan hidupnya selama ini, sampai akhirnya kanker itu perlahan tapi pasti bersarang ditubuhnya. Dari SMP hingga sekarang pun, dia tak yakin apakah dia masih memiliki keluarga selain ayahnya. Siksaan batin yang membuatnya merana. Namun, aku sangat takjub padanya, dia jarang sekali mengeluh ataupun menangis. Saat ku tanyakan hal itu, jawabannya sepele sekali. ”Aku nggak akan pernah menangis mbak, selama aku masih kuat menahannya. Aku juga nggak akan mengeluh karena terlalu enak tenagaku di buang-buang begitu saja. Mendingan di buat ketawa mbak, hehehe..”, kata Prisca padaku. Hanya ketegaran yang selalu menyelimuti sosok gadis mungil tersebut. Dari situlah aku belajar banyak tentang perjuangan hidup. Walaupun aku bukan saudaranya, tapi hanya aku yang dia punya. Bersamaku, dia selalu bercerita tentang apapun. Sekalipun tentang cowok yang dia taksir di kampus belakangan ini. Mendengar ceritanya, sepertinya mereka memang saling suka dan mengerti satu sama lain. Aku tersenyum senang melihat wajahnya yang berbunga-bunga karena si Farabbi.
Aku tersadar dari lamunanku ketika nama Prisca disebut oleh pelayan apotek. Setelah aku menyelesaikan pembayaran, bergegaslah aku ke toko sebelah untuk membeli keperluan Prisca selama di RS. Aku berjalan di koridor RS yang tampak masih lengang. Saat ku tiba di kamar Prisca, ternyata dokter berada disana. Prisca nampak tambah pucat wajahnya. Perasaanku mulai tak tenang. ”Ada apa Pris? Kok wajahmu pucat banget?”, tanyaku padanya. ”Aku nggak kenapa-kenapa kok mbak. Mungkin kelelahan mbak, dari tadi aku ngobrol sama dokter terus.”, jawabnya sambil tetap tersenyum. ”Maaf dok, ada sesuatu yang terjadi sama Prisca? Kok dokter dari tadi disini?”, tanyaku pada dokter Nafilis, seorang dokter paruh baya spesialis organ dalam. ”Ow, nggak ada apa-apa mbak Nia. Tadi saya kesini periksa Prisca, tapi malah dia kebangun dari tidurnya.” ucap dokter itu. Setelah itu, dokter pamit keluar mau memeriksa pasien yang lain.
Aku menata keperluan Prisca di lemari. Kemudian Prisca menyeletuk, ”Mbak, udah tau penyakitku kan?”. Aku tersentak kaget. ”Hah,,, emmm,,, penyakit apa si Pris?”, jawabku agak gugup. ”Alah mbak, nggak usah takut gitu deh. tadi dokter udah cerita semuanya kok.”, ucap Prisca sambil tersenyum. ”Udah, nggak usah di pikir Pris. Tawakal aja yah? Ini semua pasti akan segera berlalu kok. Mbak yakin kamu pasti sembuh. ”, kataku berusaha menguatkan Prisca sambil memegang tangannya. ”Iya mbak, aku pasti sembuh kok, hehehe...”, jawabnya sambil tertawa renyah. ”Aku juga merasakan, sebenarnya hatimu pilu mendengar tentang penyakit itu menyerangmu”, gumamku dalam hati.
”Mbak, boleh minta tolong?”, ucap Prisca sedikit serius. Sorot matanya menyiratkan secercah harapan yang masih bimbang. ”Minta tolong apa sayang?”, jawabku padanya dengan lembut. ”Tolong rawat aku ya mbak. Sebenernya aku takut. Aku takut akan mati secepat ini. Aku belum siap mbak. Banyak hal yang belum aku lakuin.”, cerocos Prisca. ”Sabar ya sayang. Roda terus berputar. Mbak janji akan selalu ngerawat dan jaga kamu. Kamu jangan menyerah gitu ya? Kamu pasti sembuh.”, jawabku sambil memeluknya.
Seminggu setelah Prisca di rawat di RS, dia sudah semakin membaik. Wajah pucatnya mulai menghilang. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan besok boleh pulang. Tapi itu hanyalah impian. Tepat malam sebelum kepulangannya, dia malah muntah darah. Tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya jadi tampak kuning sekali. Aku mulai gelisah memikirkannya. ”Kenapa Pris? Ada yang sakit?”, tanyaku padanya. ”Mbak, badanku sakit semua. Aku capek banget.”, rintihnya padaku. ”Sabar ya sayang. Buat istirahat aja dulu, tadi kan obatnya udah di minum. Ntar pasti agak mendingan.”, kataku padanya sambil memijat-mijat tangannya. Dia tersenyum, kemudian tertidur dengan pulas.
Pagi sekitar jam 8, aku membangunkan Prisca. Dia tampak masih pucat dan lemas. ”Pagi sayang...”, sapaku. Dia hanya tersenyum dan tiba-tiba tertidur lagi. ”Sayang, ayo bangun. Makan dulu ya? terus di munum obatnya.”, kataku membujuknya. Takdir berkata lain. Saat dia tersenyum adalah saat terakhir kali dia menghembuskan nafasnya. Hatiku tak bisa menahan rasa pilu ini. Tetes air mataku seolah sirna tak bisa keluar lagi.
Sesosok gadis mungil yang berjuang demi kehidupannya telah kau panggil. Dialah pahlawan yang sesungguhnya. Aku memahami segala hal tentangnya. Dia adik istimewa yang kau titipkan untukku. Ketegaran dan kemandirian yang dia miliki, membuatku belajar menjadi manusia sejati. Dia menyusul ibunya yang telah duluan berada disana. Tuhan, pintaku hanya satu. Tolong tempatkan dia di tempak yang paling mulia. Begitu berat perjuangan hidupnya selama ini. Selamat jalan adikku tersayang. Telah ada berjuta kenangan yang selalu tersimpan di hatiku. Kau mengajariku melihat lebih dalam arti kehidupan yang sebenarnya. Proses pembelajaran singkat yang sangat bermakna. Pahlawanku, semoga kau tenang berada disana. Menurutku, pahlawan yang sesungguhnya adalah orang yang berusaha melalui setiap langkahnya dengan perjuangan, tanpa mengeluh, bahkan berani berjalan sendirian di kegelapan demi mencari secercah cahaya impian. Wahai peri kecilku, semoga kau bahagia disana.

Senin, 04 April 2011

Me n KKB


Berawal dari sebuah perkumpulan mahasiswa daerah Keluarga Kudus Bogor-Menara Kota (OMDA KKB-MK). Hari-hariku mulai lebih berwarna sejak mengenal kalian. Dulu, tiap malem minggu jam 7 malem kita rajin kumpul di depan GKA. Diriku hampir serupa dengan teman-teman seangkatan lainnya, selalu menunggu-nunggu malem minggu itu. Apa yang kita rasakan keluh kesah susah senang selama kuliah ataupun keseharian kita di asrama dan tempat kos adalah topik pembicaraan yang nggak akan habis buat di kupas tuntas. Semua pasti berentetan berbuntut panjang sepanjang gerbong kereta api Senja Utama jurusan Jakarta-Semarang. Kita saling support ngasih komentar-komentar mulai dari yang seneng-seneng sampe yang sedih-sedih juga ada. Dan akhirnya mulailah muncul kebersamaan, persahabatan, cinta, dan perpisahan.
Namun nggak hanya gitu aja, ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat yang kita lakukan bersama. Misalnya olahraga bareng, kalau hari Minggu pagi kita sering ngadain jogging bareng. Rute paling seru adalah keliling kampus mulai Berlin lari-lari kecil nyampe Asrama Putri. Ujung-ujungnya nglewatin fahutan, FPIK, fapet, FKH, kandang fapet, hutan-hutan deket rektorat, dan kolam ikan milik FPIK. Walaupun capek tapi seru-seruan bareng di sepanjang perjalanan jadi nggak bikin bosen. Kegiatan yang nggak kalah serunya adalah nonton film bareng. Terus, ada piknik bareng ke KRB, makan rujak bareng, foto-foto bareng disana, mudik lebaran bareng. Hmm, aq kangen suasana kayak gitu lagi sekarang. Karena kesibukan masing-masing, sekarang hampir jarang banget kita kumpul-kumpul lagi. Semoga kekeluargaan kita selamanya tetap terjalin. Gak cuma pas jaman kuliah aja. miss u friends.. :))

Jumat, 01 April 2011

Cinta Satu Bulan di Leuwikaret

        Sebuah pengalaman yang sangat menggugah hati nurani. Kedatangan saya di sebuah desa yang bisa disebut desa yang cukup terpencil. Berawal dari program IPB Go Field 2010 yang ditawarkan oleh LPPM IPB, saya bertemu dengan keluarga-keluarga baru yang sangat luar biasa. Desa Leuwikaret adalah nama desanya. Disana saya ditempatkan bersama 13 orang mahasiswa lainnya. Awalnya kami ber-14 tidak pernah membayangkan akan dapat bertahan selama sebulan disana. Tetapi karena ini memang konsekuensi yang harus dipilih maka kami pun menjalani hari-hari disana mencoba menerapkan program-program yang telah disepakati sebelumnya.
Leuwikaret merupakan salah satu desa binaan PT Indocement yang berada di sekitar daerah penambangan. Kesan pertama melihat sekeliling desa adalah tandus dan panas berdebu. Namun setelah beberapa hari observasi melihat sekeliling desa, terdapat keistimewaan tersendiri yang membuat Leuwikaret berbeda dengan desa-desa binaan yang lainnya. Walaupun unsur tanah yang tampak tandus tapi terdapat berbagai macam tumbuh-tumbuhan dapat hidup disana. Akses ke desa sudah cukup terjangkau walaupun hanya dengan naik ojek. Jalan beton telah dibangun berkat bantuan PT Indocement dan gotong royong warga sekitar hingga Leuwikaret dapat terjamah oleh beberapa kendaraan.
Desa ini terbagi atas 5 dusun yang jarak antar dusunnya lumayan jauh, kurang lebih berjalan kaki berjam-jam dengan kontur jalan yang naik turun selayaknya di pegunungan. Kami ber-14 tinggal terpisah satu dengan yang lainnya. Dusun I (Guha Kulon) yang merupakan tempat saya tinggal selama sebulan bersama Widya dan Tati. Untuk Dusun II (Guha Gajah) yang merupakan tempat tinggal Endah, Mia, dan Dona. Selanjutnya Dusun III (Guha Landeuh) yang merupakan tempat tinggal Mbak Risya dan Indra. Kemudian Dusun IV (Guha Siangin) yang merupakan tempat tinggal Erna, Ifah, dan Susan. Dan yang tinggal di Dusun V (Guha Cioray) adalah Dani, Alhamadi, dan Rian.
Satu hal yang membuat hati saya menangis adalah ketika mendengar cerita dari ibu pemilik rumah yang saya tempati bahwa di desa ini pendidikannya masih sangat kurang. Dari semua dusun yang saya kunjungi, hanya ada satu SD Negeri yang ada. Sedangkan yang lainnya adalah beberapa MI yang baru dirintis beberapa waktu dekat ini dan MD yang telah lama berdiri. Setelah tamat SD atau sederajat, rata-rata siswa tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Akhirnya untuk mengatasi hal tersebut, setahun yang lalu didirikanlah MTs Assyifa yang tanpa dikenai biaya apapun bagi semua siswanya. Walaupun dengan ruangan kelas yang seadanya namun tidak menyurutkan niat para siswa dalam menuntut ilmu. Sangat ironi sekali, terlihat tanpa fasilitas penunjang selayaknya sekolah pada umumnya. Apalagi ruang kelas untuk siswa angkatan baru yakni kelas X, hati ini merasa sangat iba melihatnya. Ruangannya baru saja dibangun, hanya ada meja guru dan papan tulis. Setiap hari para siswa kelas X yang berjumlah sekitar 50-an harus berjuang menuntut ilmu, mendengarkan pelajaran dengan hanya duduk di lantai alias lesehan. Dengan ruangan yang tidak terlalu besar dan jumlah siswa yang membludak membuat kenyamanan belajar mengajar sangat terabaikan. Untuk pengajarnya, hanyalah para relawan yang mau mengabdikan dirinya untuk pendidikan tanpa gaji selayaknya seorang pengajar. Bahkan ada beberapa pemuda asli Leuwikaret lulusan SMA yang mengabdi disana sebagai pengajar. Sangat memprihatinkan sekali, salah satu desa yang berada di pinggiran kota Bogor masih perlu perhatian khusus.
Setiap daerah pasti memiliki kebiasaan maupun adat tersendiri, tak terkecuali di Leuwikaret. Penduduk desa ini alhamdulillah 100% memeluk agama Islam. Namun ada beberapa kebiasaan yang masih berlaku hingga saat ini yang menurut saya kurang relevan lagi. Misalnya banyak pemuka agama yang menganut ASPEK (Anti-Speaker), yakni mengharamkan penggunaan alat elektronik yang menggunakan speaker contohnya TV, tape, radio, dll. Asumsi mereka yang mengharamkan hal itu adalah karena dengan adanya alat-alat elektronik jenis tersebut akan mengganggu jam beribadah mereka. Namun di era global seperti sekarang ini terasa kurang relevan di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat di bidang teknologi.
Di desa ini, kami satu kelompok memiliki beberapa program kegiatan, misalnya saya dengan program UKM Pangan Sehat. Kemudian program Lubang Resapan Biopori (LRB), Penghijauan Lahan Kritis dan Sosialisasi Pupuk Organik, Pembentukan dan Pengembangan POSDAYA, dan juga Pengembangan TOGA. Alhamdulillah, semua program yang di pegang oleh tiap-tiap kelompok berhasil terlaksana. Untuk UKM Pangan Sehat dan Pengembangan TOGA, kami mengundang ibu-ibu PKK dalam sosialisasi pembuatan kripik pisang coklat. Dalam acara tersebut, kami berinteraksi langsung dengan warga mencari info-info lain tentang potensi desa. Kami juga berdiskusi mengenai tanaman obat-obatan keluarga yang banyak ditemukan di pekarangan rumah. Kemudian kami sharing mengenai masalah pentingnya kesehatan terutama untuk anak-anak. Tidak hanya membahas mengenai makanan sehat dan bergizi, kami juga menyoroti masalah MCK disana yang masih sangat minim.
Selanjutnya untuk program LRB dan Penghijauan Lahan Kritis serta Sosialisasi Pupuk Organik kami lakukan bersama-sama ber-14. Awalnya kami mendatangi door to door tiap rumah untuk sosialisasi LRB. Walaupun kami menjadi lebih akrab dan interaktif dengan para warga desa tapi terasa kurang efektif, hingga kami memutuskan untuk sosialisasi LRB di sekolah-sekolah yang ada di Leuwikaret. Selain itu, pada tiap-tiap sekolah yang kami datangi sekaligus bermain dan memperlihatkan video motivasi agar para siswa lebih giat lagi dalam menuntut ilmu. 
So, selagi masih mampu jangan sia-siakan kesempatan untuk menuntut ilmu. Teringat saat-saat bersama kalian Leuwikaret'ers.. Semoga persahabatan kita nggak cuma bertahan satu bulan saja..^_^