nana1

nana1
Kota Tua, Jakarta

Selasa, 25 Maret 2014

yaa hidup adalah pilihan

Dulu, saat aku masih kecil adalah sebuah mimpi. Menjelang remaja mimpiku perlahan mulai jadi kenyataan. Inginku tinggal di kota yang identik dengan suhu yang relatif lebih dingin mulai memasuki babak baru. Diantara Malang, Jogja, Bandung, dan Bogor. Yaa tanpa sengaja aku terdampar perlahan di salah satu kota itu. Hasil PMDK USMI yang aku ikuti mengantarkan aku pada kota hujan alias Bogor. Walaupun dengan ekstra perjuangan sana sini sendiri dan berusaha setengah mati (lebay dikit :p) meyakinkan ortu agar merestui keinginan itu, akhirnya semua terlewati juga. Hari-hari cukup berat kulalui di sana. Dengan mengandalkan kiriman yang pas-pasan, aku mengatur keuanganku dengan hati-hati. Yaa ngirit saat weekday dan ga cemberut saat weekend. Dunia kampus juga penuh perjuangan, mulai dari pikiran hingga perasaan. Sampai akhirnya 8 semester mampu kulalui, ujian demi ujian, PL, skripsi, penelitian, seminar, sidang, hingga wisuda. Tahap selanjutnya adalah dunia kerja. Yupp aku mencoba bertahan di sana dengan keringatku sendiri.  Lebih kurang 8 bulan kulewati, dan akhirnya sebuah keputusan besar harus aku ambil. Yaa aku harus kembali. Ortu sudah menanti kepulanganku agar aku dapat merawat mereka yang akan segera menikmati hari tuanya. Ortu mulai sering sakit-sakitan. Miris rasanya kalau ternyata mereka diam-diam menyembunyikan penyakitnya dariku. Mungkin awalnya hati kecilku teriris perih, harusnya mereka bangga anak kesayangannya berjuang di sana demi mereka juga, namun jarak yang terlalu jauh membuatku sedikit lebih mengabaikannya. Yaa hari berganti hari, dan sekarang aku telah bersamanya lagi setelah 6 tahun sedikit kulalaikan sejenak dari pikiranku demi sebuah impian. Aku merelakan segalanya agar aku bisa lebih dekat lagi dengan mereka. Impian berkarir bahkan melanjutkan cita-citaku perlahan aku tutup rapat. Bahkan melihat dari dekat seseorang yang masih istimewa dihatiku, perlahan mulai aku kubur dalam-dalam. Aku adalah aku. Dengan sejuta impian yang terkadang sulit dimengerti. Yaa aku mulai menapaki hari di kota kelahiranku ini. Kota kecil yang bahkan aku butuh adaptasi lagi karena perlahan mulai terlihat sumpek, tak seperti dulu lagi. Ingin sekali rasanya aku iri melihat orang disekelilingku masih berjuang menapaki impiannya. Sedangkan aku? Semua hanya tinggal harapan. Sekarang aku tak ingin berlarut dalam kelemahan itu, yang aku inginkan adalah yang terbaik untuk ortu. Terkesan sok penurut memang, tapi setidaknya itu lebih baik daripada aku akan menyesal suatu hari nanti.
Bermimpi memang harus, tapi dalam kenyataan kita harus berpikir dua kali saat sebuah pilihan datang. Demi ortu yang telah menguras lahir batinnya untuk anak kesayangannya, atau egois tetap mengejar impian duniawi :)